Paradigma pembangunan di banyak negara kini lebih berorientasi kepada pengembangan sektor jasa dan industri, termasuk di dalamnya adalah industri pariwisata. Demikian juga di Indonesia, termasuk di Batam, aktivitas sektor pariwisata telah didorong dan ditanggapi secara positif oleh pemerintah dengan harapan dapat menyemai sektor industri elektronik dan perdaganggan yang selama ini menjadi andalan penerimaan pendapatan asli daerah. Sektor pariwisata memang menjanjikan untuk turut membantu menaikkan pendapatan asli daerah, termasuk secara pragmatis juga mampu meningkatkan ekonomi dan pendapatan masyarakat. Lantas pertanyaannya bagaimana membangun industri pariwisata di Batam?, untuk mendapatkan hasil yang maksimal, tentunya harus melakukan pengindentifikasian tentang apa yang harus dilakukan baik dari strategi segi promosi maupun pengembangan industri pariwisata?
Baru saja menerima teman yang mengantarkan pesanan vitamin Esther C yang saya pesan. Cerita punya cerita, ternyata dia mau sekalian pamit, mau pindah ke Jakarta bersama keluarganya. Waktu saya tanya apakah sudah ada kerja atau mau usaha apa, kaget juga saya bahwa dia belum punya rencana yang jelas. Disamping itu dia juga tidak puya celengan tabungan untuk mendukung upaya selama mencari pekerjaan. Untung ada orang tua yang bisa di”tebeng”in .... alasannya orang tua sudah pensiun dan mau momong cucunya.
Salah satu dari sekian banyak produk unggulan industri pariwisata di Indonesia adalah Industri MICE (Meeting, Incentive, Conference and Exhibition). Industri MICE yang di dalamnya terdapat unsur meeting, incentive, conference, and exhibition, dua tahun terakhir ini menunjukkan tren yang sangat menggembirakan sejak di tetapkan secara resmi oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Seorang pemain “travel & tour inbound” di Batam yang biasa melayani tamu wisatawan dari Singapore nyeletuk di suatu pertemuan. Dengan berapi-api ia mengatakan bahwa beberapa calon pelanggannya banyak di bajak ke tujuan wisata Malaysia. Dan dengan pasti ia mengatakan bahwa Malaysia, yang telah kita tentukan sebagai target wisatawan mancanegara ke Batam, adalah pesaing kita. Banyak orang bilang kita ingin menyaingi Singapore.... Tidak benar itu ..! Singapore jelas bukan pesaing dalam business wisata. Inipun telah jelas-jelas kita sepakati. Batam tidak mungkin menyaingi Singapore. Batam ingin memposisikan diri sebagai ekstensi dari Singapore. Nah Malaysialah pesaing kita!
EVENT demi Event telah dilakukan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Batam yang ke 180 yang diselenggarakan pada hari-hari seputar tanggal 18 Desember 2009. Saya dengan penuh antusias mengikuti acara demi acara itu, sebab ingin juga tahu bagaimana hasil kegiatan event yang dianggap sebagaimana pemanasan menuju Visit Batam 2010 yang sebentar lagi akan di launching. Ini adalah ajang yang perlu dievaluasi terus menerus, mengingat ada target yang ingin dicapai.
DUA hari yang lalu kami bersama rombongan Asita Batam berkunjung mengikuti acara Table Top antara “seller” (pihak Asita Batam) dan “buyer” (pihak MATTA – Malaysia Association of Tour Travel Agents) di Johor Baru. Malam kunjungan itu kami diterima oleh tim dari Johor Tourism Council Malaysia. Yang istimewa adalah bahwa rombongan Batam dijamu diatas sebuah kapal ‘pelancongan” yang berkapasitas sekitar 200 orang, berlayar di sepanjang pantai selat yang membatasi Malaysia dan Singapore.
DALAM hitungan hari kita akan memasuki tahun 2010, itu artinya Visit Batam Year 2010 (VBY2010) yang selama ini telah dikumandangkan akan segera dimulai. Bersamaan dangan Visit Batam Year 2010, program Visit Indonesia Year akan tetap dilanjutkan pada tahun 2010. Hal ini cukup beralasan, karena dari tahun ke tahun program ini dinilai mampu mengerakan pariwisata di daerah untuk semakin bergairah dalam membangun pariwisatanya. Meskipun dipandang efektif namum program tersebut belumlah optimal.
ROUTE penerbangan masa kini sangat dipengaruhi oleh upaya perusahaan penerbangan mencari pasar yang lebih menjanjikan. Perusahaan penerbangan pada umumnya melakukan penerbangan dari kota-kota tertentu saja, yang memang dianggap ramai. Tetapi dengan kehadiran low cost carrier, dengan motto “every body can fly”, situasi ini sudah makin terwujud, makin banyak orang menyukai bepergian dengan menumpang pesawat terbang. Kita harus mengacungkan jempol kepada perintis penerbangan biaya murah ini.
ANDA tidak akan laku bila tak berada di jalur promosi dunia, objek wisata Anda pun tidak diketahui dan akan dilupakan oleh turis dunia bila tak ditemukan di jaringan internasional”. Kini bukan zaman ketika orang sebelum berpergian bertanya pada ahli nujum, bagaimana nasibnya di perjalanan nanti. Kini ahli nujum itu bernama promosi dan internet, tempat siapa saja mencari informasi tentang tempat yang akan dituju, lalu mempertimbangkan segalanya, dari selera makananan sampai fulus, dari waktu sampai kendaraan. Jelas bahwa pariwisata sebenarnya berbasiskan informasi. Hal tersebut sebenarnya memang benar apa adanya ketika pernyataan sejumlah wisatawan asing yang suka ke Bali, ketika ditanya kenapa mereka bolak-balik hanya ke Bali, jawabannya sama. mereka tidak mendapatkan informasi di internet tentang objek pariwisata di Indonesia selain Bali. Ini sebuah tantangan yang perlu secepatnya dijawab.
KALAU ada tamu Anda bertanya “apa ya oleh-oleh yang saya bisa bawa pulang dari Batam?” Surabaya punya banyak oleh-oleh alias buah tangan dari Sidoarjo, kerupuk udang, Bandeng isi, petis dan banyak lagi. Di Bandung tentu kita ingat Oncom Raos dan toko semacam itu di daerah Cihampelas yang ramai dikunjungi orang luar kota yang berlibur kesana. Segala macam kripik dan produk penganan kering bisa Anda dapatkan disana. Kota itu memang tempat sumber segala bahan baku itu. Tetapi apa yang bisa ditawarkan oleh Batam? Sumberdaya alam apa yang dimiliki Batam? Batam hampir boleh dikatakan tidak punya apa-apa.... kecuali tanah bauksit yang gersang. Lihatlah jenis pepohonan yang tumbuh diatas tanah itu... semuanya tanaman keras....